DESISAN
DI PERSIMPANGAN
Senja telah bergulir menjadi sang malam. Cahaya matahari yang sejam
lalu masih menyinari kini telah menenggelamkan dirinya dalam kegelapan. Bahkan
dinginnya udara malam mulai mengendap-endap masuk dan menembus pori-pori kulit.
Tapi masih tak ada yang berubah dari gadis itu. Ia masih saja melamun sambil
terisak pelan. Jaket hangat berwarna biru muda masih setia menyelimuti
tubuhnya. Gadis itu hanya bisa duduk terpaku di sudut kamar. Kakinya tertekuk
dan tangannya mendekap tekukan kaki itu. Sesekali tangannya mengusap kedua belah
pipi yang terbasahi oleh genangan air mata. Lalu aku mendekatinya dan berjongkok
di depannya. Dia menatapku. Aku pun berusaha memahami apa yang sedang terjadi
padanya.
“Rina, kamu kenapa menangis?” tanyaku padanya yang masih belum
beranjak dari sudut kamar itu. “ceritalah pada Mbak. Siapa tau Mbak bisa
membantumu.” Aku merangkul punggungnya dan dia mengusap kedua belah pipinya
lagi.
“Rina rindu ibu, Mbak Citra. Dia tidak mau keluar dari kamar sejak
dua hari yang lalu. Kenapa seperti ini, Mbak?” pandangan Rina tertuju padaku.
Mata bulatnya menatap dengan penuh harapan. Harapan bahwa dia akan mengerti
mengapa ibu tak kunjung keluar dari kamar.
“Tak ada
apa-apa, Rina. Ibu hanya lelah. Dia butuh istirahat beberapa waktu. Mbak tahu
apa yang sedang ibu rasakan. Ibu hanya butuh istirahat.” Lalu aku berusaha
meyakinkan Rina bahwa ibu baik-baik saja. Tapi apakah kenyataannya begitu?
Sudah dua hari ibu tidak mau keluar dari kamar. Makannya tidak lancar. Pikiran
ibu hanya tertuju pada Mbak Shofi yang sekarang sedang kuliah di salah satu
universitas di Semarang. Dia tinggal bersama ayah kandungnya. Sebenarnya ayah
bisa saja mengirimkan uang sebanyak yang Mbak Shofi butuhkan. Tapi Mbak Shofi
tak mau. Ia tak mau menerima uang dari ayah tirinya sepeserpun. Bahkan kata ibu,
Mbak Shofi sudah mau menikah. Hanya saja ayah belum mengizinkannya sampai
kuliahnya benar-benar tuntas. Ayah sangat sayang kepada Mbak Shofi meskipun
Mbak Shofi tak pernah mau menganggapnya ayah. Ayah hanya bisa menjadi om di
hidup Mbak Shofi. Mbak Shofi selalu memanggilnya Om Darma. Dua minggu yang lalu
Mbak Shofi memutuskan untuk pergi dan tinggal di Semarang bersama ayah
kandungnya. Sebelum ia pergi, ibu sempat menahan. Mbak Shofi hanya bilang bahwa
suatu saat dia akan pulang. Setiap senja datang ibu selalu menunggu. Di tepi
persimpangan yang tak jauh dari rumah itulah ibu selalu menanti. Ada kursi memanjang di tempat
itu. Tapi Mbak Shofi tak pernah muncul. Mungkin sebenarnya hati ibu kecewa.
Tapi beliau selalu menghibur hatinya dengan berpikir ‘mungkin ada halangan yang
menghambat Shofi karena perjalanan dari Semarang ke Tegalrejo di Magelang
memang jauh’. Hingga dua hari terakhir ibu tak lagi melakukan hal yang sama.
Beliau tak menjemput Mbak Shofi yang memang tak datang. Aku
belum tahu mengapa ibu tak melakukannya lagi. Apakah ibu sakit belakangan ini?
Rina masih
kelas 9 di bangku SMP. Sebentar lagi ada ujian menghampiri. Tapi ia sering cerita
padaku bahwa pikirannya selalu kacau memikirkan nilai yang dituntut oleh
gurunya. Setiap orang memang mempunyai kemampuan sendiri-sendiri. Hanya saja
apa salahnya jika dia mencoba belajar dengan keras untuk meraih nilai tertinggi
meskipun jika hanya dibayangkan itu sangat mustahil. Aku selalu menyemangati
Rina supaya suatu saat dia bisa sukses. Aku pun yang masih duduk di bangku
kelas 10 SMA belajar dan berusaha untuk menjadi yang terbaik dan yang
terpenting aku harus sukses. Aku ingin membahagiakan ibu dan ayah. Tak seperti
Mbak Shofi yang lari meninggalkan rumah dan jarang memberi kabar hingga seisi
rumah cemas memikirkannya. Aku tak ingin membuat ibu sakit. Mungkin niat Mbak
Shofi benar. Dia ingin sukses. Tapi kelakuannya pergi dari rumah meskipun ibu
tak setuju salah.
Setelah
keluar dari kamar Rina, aku berjalan memasuki kamarku. Kuraih ponsel yang sudah
sedari siang tadi sengaja tak kupegang. Ada 3 misscall dari Mbak Shofi. Selain itu dia meninggalkan pesan. ‘Citra,
aku akan pulang lusa. Mas Deni juga ikut. Aku sama Mas Deni mau menikah di rumah
saja. Titip salam buat ibu dan Om Darma ya,’ begitulah isi pesan dari Mbak
Shofi. Singkat dan jelas. Ternyata dia akan menikah dengan seseorang bernama
Mas Deni. Aku belum mengerti seperti apa calon suami kakakku itu. Apakah setelah
mereka menikah Mbak Shofi akan menghilang? Aku harap tidak. Aku ingin Mbak
Shofi menjaga ibu sampai ibu tua nanti.
Aku memanggil
Mbak Shofi dengan ponselku. Tak ada tanda-tanda penyambungan. Ternyata
ponselnya tidak aktif. Memang benar sudah tidak aktifkah atau ini hanya alasan
Mbak Shofi untuk menghindari komunikasi denganku. Atau mungkin dia sangat sibuk
dengan mata kuliahnya sehingga ia tak ingin di ganggu. Secepat mungkin kakiku
melangkah mendekati ruang kamar ibu. Pintu itu terlihat setengah membuka.
Dalamnya masih gelap. Mengapa ibu tak menyalakannya? Apakah ibu tidur? Kemudian
aku memasuki ruangan di samping ruang keluarga itu. Aku langsung menyalakan
lampu untuk menerangi ruangan. Terlihat seorang wanita yang sedang tertidur di
atas tempat tidur. Di sudut matanya masih terlihat bekas aliran air mata.
Mungkin tadi ibu menangis. Melihat ibu yang belum terselimuti, aku langsung
mengambil selembar kain hangat itu. Selembar kain itu kuselimutkan ke permukaan
badannya. Tiba-tiba mata itu terbuka. Wajah itu terlihat sangat lelah dan
sedikit pucat. Lalu aku duduk di tepi tempat tidur itu.
“Ibu kenapa?
Apa ibu baik-baik saja?” tanyaku pada ibu yang disusul dengan gelengan
kepalanya. “Ibu sakit?” tanyaku lagi.
“Tidak.”
Jawabnya singkat.
“Ibu terlihat
sangat lemas. Ibu mau makan?” tanyaku lalu memegang tangan ibu. Tangannya
sangat dingin.
“Ibu tidak
lapar,” jawabnya singkat lagi.
Muka itu masih terlihat sedih. “Kapan Shofi pulang, Nduk?” Tanya ibu tiba-tiba
mengagetkanku.
“Ibu rindu Mbak
Shofi?” tanyaku yang kemudian disusul dengan anggukan ibu. Kemudian ibu
menegapkan badannya dan duduk di sampingku.
“Iya. Kata
Shofi, dia akan pulang. Ibu selalu menunggunya. Setiap sore ibu menjemputnya di
tepi persimpangan. Tapi dia tak pernah muncul. Kenapa dia tega membohongi ibu,
Nduk?” kata ibu mengingatkanku bahwa tadi Mbak Shofi mengabari. Dia akan
pulang.
“Bu, Mbak Shofi
akan pulang besok. Tadi dia menelepon Citra. Tapi Citra meninggalkan ponsel
Citra di kamar sehingga Citra tak tahu. Tapi Mbk Shofi mengirim pesan. Dia akan
pulang bersama calon suaminya.”
“Benarkah?”
raut muka ibu langsung berubah. Ada guratan bahagia yang menyelubungi wajahnya.
Bibirnya tersenyum. Lalu aku mengangguk. Dengan secepat kilat ibu langsung
beranjak dari tempat tidur. Beliau berjalan keluar.
“Ibu mau kemana?”
tanyaku yang langsung memegang tangan ibu.
“Ibu mau ke
dapur. Ibu mau memasakkan Shofi makanan kesukaannya.” Kata ibu dengan bibir
masih tersenyum.
“Tapi ini sudah
malam, Bu. Kenapa mendadak begini. Mbak Shofi tak butuh makanan. Mungkin dia
cuma meminta restu dari ibu dan menikah. Setelah itu dia akan pergi lagi.”
“Tidak! Dia
tidak akan meninggalkan ibu lagi.” Lalu ibu berjalan ke dapur. Sampai dapur ibu
membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan makanan. Aku mencemaskan ibu yang
sepertinya sedang tidak sehat. Aku juga takut ibu akan kecewa lagi.
“Bu, ini sudah
malam. Sebaiknya ibu tidur saja. Kalau ibu mau memasak lebih baik besok saja.”
Ibu tak menghiraukan perkataanku. Beliau melanjutkan keinginannya untuk memasak.
Untuk apa aku berdiri di sini dan meminta ibu menghentikan pekerjaannya? Lebih
baik aku memikirkan tugas yang aku punya untuk esok hari. Oh iya, aku masih
harus membuat laporan tentang cerita perjalanan ke suatu museum yang harus
dikumpulkan lusa. Kemudian aku berjalan kembali ke kamarku.
Setelah
mengerjakan tugas, aku merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Tubuh ini terasa
sangat lelah. Pikiranku juga belum bisa tenang. Apakah Mbak Shofi benar-benar
akan pulang besok? Antara rindu dan muak aku masih belum bisa memejamkan mata. Kini
pikiranku teramat kacau. Hatiku tak tahan lagi merasakan gejolak yang semakin terasa
panas membakar di dada. Masih teringat dalam pikiranku apa yang ibu katakan dua
bulan yang lalu.
“Nduk, kehidupan ini memang terkadang bergejolak. Perjalanan tak
bisa setenang yang kita harapkan. Selalu ada rintangan dan perjuangan yang
harus kita hadapi dan jalani. Tapi jangan pernah lupa dengan hasil yang pasti
sedang bersembunyi di belakang ujian hidup itu, Nduk.” Ibu mengatakan itu seperti
tak pernah menghadapi beban yang berat. Tapi sekarang mengapa ibu hanya bisa
termenung mengetahui bak Shofi yang pergi meninggalkan keluarga ini. Apakah
Mbak Shofi lupa dengan kampung halamannya? Apakah Mbak Shofi lupa dengan wanita
tua yang dulu pernah melahirkannya? Entah karena lupa atau sengaja menghilang
dari hidup ini. Yang aku tau aku tak ingin mengingatnya lagi. Mungkin kini dia
sudah bahagia dengan calon suaminya yang mapan itu. Kakak satu-satunya yang aku
punya mungkin tak peduli lagi dengan ibu yang tiap hari menantinya untuk
pulang. Sampai ibu harus panas dingin badannya karena sakit dan demam. Kenapa
sekarang ibu selemah ini menghadapi Mbak Shofi yang bahkan sudah tak
mempedulikannya? Aah… aku tak mengerti dengan mereka semua. Terlalu pahit mengingat
kepergian kakak satu-satunya. Masih teringat bagaimana perselisihan dua minggu
yang lalu ketika Mbak Shofi bersikeras meninggalkan rumah.
“Ibu, aku mau pergi sekolah. Om Darma dan ibu harusnya bangga
melihat putrinya semangat menuntut ilmu,” kata Mbak Shofi semalam sebelum
kepergiannya itu.
“Nduk, kamu mau tinggal di mana? Kenapa tidak ke universitas yang
dekat saja supaya kamu bisa pulang?” kata ibu mencegah kepergian putrinya itu.
“Iya, Nduk. Kamu kan juga masih butuh biaya dari Om,”
“Enggak, Om. Aku akan tinggal dengan ayahku. Om gak usah khawatir,”
“Kamu ingin meninggalkan Ibu? Ibu sangat menyayangimu, Nduk.” Kata
ibu sembari memegang tangan Mbak Shofi.
“Shofi akan pulang, Bu. Biarkanlah Shofi pergi. Shofi janji akan
pulang suatu saat.” Lalu tangan ibu dilepaskannya dengan pelan. Ibu tak dapat
menahannya lagi. Mbak Shofi langsung pergi berjalan mendekati taksi. Dia tak
mempedulikan ibu yang belum rela melihat kepergian putri tercintanya itu.
Begitu Mbak Shofi masuk ke mobil, terdengar rintihan yang semakin lama semakin
menjadi-jadi. Isak tangis itu semakin keras. Tapi Mbak Shofi tak mempedulikan
air mata yang teramat deras mengalir itu. Beberapa waktu kemudian, roda taksi
mulai berputar. Desisan suara mobil semakin jauh tak terdengar. Di simpang tiga
itulah mobil taksi terlihat untuk terakhir kalinya. Entah Mbak Shofi akan
muncul lagi atau tidak. Tapi sejak pagi itu ibu menangis dan tak mau makan. Ibu
juga tak mau masuk ke rumah sampai malam datang. Tapi setelah ayah berhasil
menyadarkan bahwa Mbak Shofi tak akan kembali ke rumah hari itu juga, ibu mau
masuk ke dalam rumah. Setelah kejadian itu ibu juga tidak dapat beranjak dari
tempat tidurnya. Beliau sakit sampai tiga hari. Kata ayah, ibu juga sering
mengigau tentang Mbak Shofi. Aku ingin kesedihan ibu segera berakhir.
Paginya selesai mandi dan menata diri, aku mengambil laptop untuk
menyelesaikan tugas sekolahku. Hari ini hari Minggu sehingga aku masih bisa
tenang tanpa memikirkan tugas sekolah terlalu banyak. Aku bisa mengistirahatkan
otak yang sudah sedari kemarin terlalu pusing memikirkan pelajaran di sekolah.
Aku duduk di sofa ruang tamu. Dari dalam sini aku bisa melihat indahnya hari di
luar rumah. Jendela lebar dengan bahan kaca itu memberitahu tentang keadaan
luar yang sangat cerah. Terlihat dedaunan menjatuhkan dirinya ke hamparan tanah
luas di halaman rumah. Seketika di persimpangan itulah, ada sebuah mobil mewah.
Suara desisan mobil yang berjalan tersebut semakin terdengar mendekat. Kemudian
mobil itu parkir di halaman depan rumah. Lima meter dari balik jendela terlihat
bayangan perempuan berparas menawan yang sedang berjalan mendekati pintu depan.
Disampingnya ada sesosok lelaki berbadan tegap yang mengiringi langkah kaki
sang bidadari. Bibir sang perempuan menyunggingkan senyum termanis yang tak
terasa asing bagiku. Dering bel berbunyi memecah keheningan. Lalu aku membuka
pintu. Kutatap wajah wanita itu. Dia terlihat lebih cantik daripada saat
sebelum dia pergi.
“Assalamu’alaikum, Citra.”Dia tersenyum.
“Wa’alaikumsalam,”
aku menjawab salamnya. Kemudian aku pun memanggil ibu. Ibu pun datang dan
menatap kedatangannya dengan pandangan terpana seakan tak percaya. Entah ini
mimpi atau sungguhan. Rasa bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Kerinduan
yang tiada tara terbayarkan dengan adanya pelukan sang ibu yang tak terlepas. Ibu
menitikkan air mata lagi. Tapi kali ini berbeda. Air mata itu bukanlah air mata
kesedihan melainkan air mata bahagia. Ada selengkung senyum yang mengiringi
linangan kebahagiaan itu. Tak kusangka, Mbak Shofi pulang…
Subhanallah, cerita yang bagus. Ini cerpen berkelas. Akan tetapi, ada baiknya Anda teliti dalam penulisan dialog, penulisan kata sapaan. Saya sarankan juga supaya latar blog Anda diganti saja yang lebih enak menyejukkan mata bagi pembaca.
BalasHapusiya terima kasih pak. tenang penlisan dialog dan kata sapaan akan saya pelajari lebih lanjut. terima kasih juga saran bapak tentang latar blog saya, akan saya perbaiki
BalasHapus