Rabu, 29 Agustus 2018

Artikel Resensi Buku Fiksi (Novel)



 RESENSI NOVEL “LUBANG DARI SEPARUH LANGIT”


Judul Buku           : Lubang dari Separuh Langit
Penulis                   : Afrizal Malna
Penerbit                 : AKY (Akademi Kebudayaan Yogyakarta)
Tahun Terbit         : 2004
Jumlah Halaman  : xi + 154 halaman
Ukuran Buku        : 13 cm x 19 cm
Cetakan                 : cetakan pertama
Sinopsis                 :          
Buku novel berjudul Lubang dari Separuh Langit karya Afrizal Malna tersebut menceritakan tentang seorang wanita bernama Candi. Ia mengumpulkan potongan-potongan kuku yang digigitinya. Potongan-potongan kuku itu ia kumpulkan di dalam toples gelas. Setelah sembilan bulan, ia menyusun potongan-potongan kuku itu dan mulai merekamnya dengan kamera video. Kukunya merekam lebih banyak peristiwa daripada kemampuan ingatannya.
Tiga hari kemudian ia meninggalkan kotanya yang selama 40 tahun ia huni. Kampung tempat tinggalnya di kota baru tidak pernah sepi. Di sana Candi mulai mengenal Neneng, janda muda yang bekerja sebagai pelacur. Kata Neneng, tidak ada yang dibayangkannya selain ibu dan adik-adiknya yang harus dihidupi oleh Neneng.
Malam itu Candi tidur agak larut. Tiba-tiba ia mendengar suara keras menghantam pintu rumah. Seorang lelaki penuh luka menggelosor dari balik pintu. Candi mulai merawatnya sejak saat itu karena sampai pagi lelaki itu belum sadar juga. Tiba-tiba ada suara ketokan pintu. Seorang preman kampung bernama Salim yang wajahnya membuat orang lain ketakutan melihatnya. Ia mengaku sebagai temannya Jejak, lelaki penuh luka yang semalam datang ke rumah itu. Salim berkata bahwa Jejak telah membunuh seseorang.
Malam itu Jejak dan Wahid duduk berhadapan di atas perahu dipisahkan oleh sebuah meja kecil ditemani sebotol minuman keras. Wahid ingin menguasai wilayah yang selama 3 tahun aman di tangan Jejak. Perdebatan tersebut membuat kedua preman itu berkelahi dan Wahid tenggelam di sungai sementara Jejak yang penuh luka menepi di bibir sungai.
Suatu hari di ujung gang, Candi melihat ada sebuah mobil trantib sedang berjaga dan siap menyergab melintasnya becak yang sedang mereka buru. Seorang ibu yang sedang memaki-maki trantib itu ditonton oleh orang-orang kampung. Kemudian malamnya ketika sudah hampir pukul 2 pagi, sebuah becak meluncur tenang di jalan sepi itu. Tiba-tiba muncul mobil trantib dari belakang dengan kecepatan tinggi menabraknya. Petugas trantib menyergab penarik becak dan sebagian lain menaikkan becak ke atas mobil. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan melempar penarik becak ke jalanan setelah dipukuli. Candi dan beberapa penarik becak lain mengunjunginya yang sudah meninggal itu di kamar mayat. Para penarik becak duduk di lantai kamar mayat mendoakan si penarik becak yang telah meninggal itu.
Esoknya, tiga ribu lebih penarik becak melewati jalanan utama kota dengan maksud menuntut gubernur ke pengadilan. Kampung bantaran sungai tempat tinggal Candi akhirnya digusur dan rumah-rumah dirobohkan. Entah darimana datangnya api, salah satu mobil trantib terbakar dan seorang trantib terlempar, Jejak memburunya. Pada akhirnya Jejak tertangkap. Kampung itu tinggal reruntuhan. Sejak itu, rumah Candi digunakan sebagai tempat sementara untuk orang-orang yang tergusur rumahnya. Jejak dipenjara. Ia kembali setelah 7 bulan berlalu.
Saat masa kanak-kanak, Bayang sering mengenakan pakaian ibunya saat beliau pergi. Panjang rok ibunya melebihi ukuran tubuhnya. Ibu yang  ia rindu. Kini Bayang berada dalam pakaian Candi. Apa yang dilakukan Candi jika dia melihatnya memakai pakaian miliknya? Pakaian itu kemudian dilepasnya. Ia mengambil semua pakaian yang dijemur itu dan mulai melipatnya satu persatu.
Bayang meninggalkan rumah dengan memakai pakaian Salim. Perasaan senang mulai menghiburnya saat ia berjalan dengan pakaian orang lain. Ia tidak jadi pergi ke pasar dan malah mejeng di sebuah halte bis. Segera ia lepas pakaian Salim dan menggantinya dengan pakaian Candi.
Bayang menyetop taksi yang membawanya ke kampung di bantaran sungai yang baru saja digusur itu. Sebagian orang sempat memandang kehadiran Bayang di kampung yang telah tergusur itu. Sebagian penduduk mulai memasang tenda untuk tidur nanti malam. Beberapa warga tampak sedang berkumpul membicarakan nasib anak-anak mereka.
Bayang melihat Neneng duduk bersandar di sebuah tembok sisa gusuran. Ia kehilangan tas berisi perhiasan beserta surat gadaian TV saat trantib merubuhkan kamar kontrakannya. Neneng mulai mengeluarkan uneg-unegnya kepada Bayang.
Pagi harinya Bayang kembali datang ke kampung yang telah tergusur itu dengan memakai pakaian Jejak. Ia melihat Candi di antara ibu-ibu. Saat itu Candi sedang mewawancarai seorang ibu. Ia melewati Candi yang tak mengenalinya. Ia kembali menuju ke rumah Candi. Ia masuk ke bagian dalam rumah. Tiba-tiba pintu berusaha dibuka dari luar. Karena dikunci, Bayang harus segera membukanya karena mungkin yang datang adalah Candi. Ia membuka pintu, membuat Candi terkejut. Candi tidak tahu siapa Bayang sehingga ia mengenalkan dirinya pada Candi bahwa ia adalah temannya Jejak. Setelah beberapa waktu membicarakan tentang Jejak, ia merasa tidak punya alasan lagi untuk berlama-lama di rumah Candi. Kemudian ia pamit. Bayang merasa Candi kurang menyukai kehadirannya.
Beberapa waktu setelah peristiwa itu, seorang ibu korban gusuran yang pernah diwawancarai Candi taun lalu datang mengunjunginya. Ibu itu telah membentuk kelompok tabungan bersama ibu-ibu lain yang hidupnya miskin. Dan tiba-tiba ibu itu bertanya kenapa Candi tidak menikah. Karena Candi menjawab tidak tahu, ibu itu menawarinya untuk ikut bergabung bersama mereka. Sejak itu Candi mulai melakukan berbagai kegiatan ibu-ibu bersama mereka. Di kelompok itu, hubungannya dengan Bu Timah yang pernah ia wawancarai bertambah dekat.
Pagi itu mereka sedang mempersiapkan aksi ke kelurahan agar bisa mendapatkan KTP. Seluruh lahan di kota itu telah menjadi lahan komersial. Pada saat yang sama, tampak usungan jenazah yang meninggal semalam kembali lagi dikarenakan kelurahan tidak memberikan surat penguburan hanya karena mayat tidak memiliki KTP. Ibu-ibu dan pengantar jenazah kemudian mendatangi kelurahan. Akan tetapi tuntutan tidak bisa dipenuhi.
Semakin lama Candi merasa dirinya tidak berarti untuk mereka. Ia menjadi sangat sensitif setelah itu. Ia kesepian. Dan pada suatu malam, hampir pukul 2 pagi ia bangun. Ia mulai melangkah menyusuri bibir sungai. Kakinya mulai menuruni bibir sungai. Ia mulai tenggelam. Tiba-tiba ia merasakan ada tangan yang menarik rambutnya ke atas, membuat tubuhnya terseret di bibir sungai. Lelaki itu ternyata adalah Salim, teman Jejak.
Setelah itu Candi hidup bersama Salim di gubuknya. ia mengikuti permintan Salim untuk bekerja sebagai pelacur. Candi meminta Salim untuk menikahi perempuan lain tetapi Salim tidak mau. Dengan perasaan sedih Candi pergi meninggalkan Salim. Sejak saat itu ia tak pernah bertemu lagi dengan Salim.
Suatu hari Neneng tiba-tiba datang di depan pintu gubuk Candi. Ia bercerita bahwa sudah dua bulan ini ia menikah dengan Salim. Candi terpukau dengan kenyataan ini. Neneng pergi dengan meninggalkan kartu namanya untuk Candi. Kartu nama Neneng kemudian dikunyah dan ditelannya.

Kelebihan       :
·         Buku ini sangat menarik dari segi judul karena digambarkan secara konotasi
·         Mengandung berbagai majas yang indah
·         Kata-kata penulis dalam menggambarkan setiap paparan kejadian sangat menarik
Kekurangan  :
·         Penulisan naskah tidak menggunakan tanda petik dalam tiap dialog yang ada
·         Alur cerita kurang jelas
·         Penulis tidak menjelaskan gambaran tokoh-tokohnya secara jelas dan rinci
·     Terlalu banyak penggambaran kejadian dengan kalimat yang berbelit-belit sehingga menyulitkan pembaca dalam memahami isi cerita
Kritik saran   :
Buku novel berjudul Lubang dari Separuh Langit karya Afrizal Malna kurang tepat jika dibaca oleh anak remaja, atau lebih tepatnya hanya pantas dinikmati oleh orang dewasa karena beberapa kali penulis menggambarkan adegan yang kurang pantas diketahui orang yang belum dewasa. Selain itu, buku tersebut terlau banyak memaparkan permasalahan sosial yang tidak jelas penyelesaian masalahnya.
Penulis diharapkan lebih berhati-hati lagi dalam memilih kata yang akan digunakan. Selain itu, penggunaan tanda baca, khususnya tanda petik dan cara penulisan dialog harus lebih diperhatikan agar tidak menyalahi kaidah penulisan yang benar dan supaya pembaca lebih nyaman dalam menikmati setiap alur ceritanya.
Kesimpulan    :
Buku novel berjudul Lubang dari Separuh Langit karya Afrizal Malna memaparkan kehidupan sosial yang masih sering terjadi dalam kehidupan saat ini, khususnya bentrokan antara alat pemerintah dan masyarakat kalangan bawah yang pada novel tersebut digambarkan melaui warga kampung dan petugas trantib. Penulis menggambarkan berbagai aksi warga kampung melewati tokoh utama bernama Candi yang seakan ikut berperan dalam setiap kejadian.
Daftar Pustaka:
Malna, Afrizal. 2004. Lubang dari Separuh Langit. Yogyakarta: AKYPRESS