(Puput Indah Dwijayanti)
Pada hari itu, Pak Edo, guru mata pelajaran Ilmu Filsafat
memasuki kelas dengan menenteng buku paket 5 pak. Suasana
kelas masih tenang dan semua anak diam mengamati langkah Pak Edo.
“Selamat
pagi, murid-muridku,” sapa Pak Edo.
“Pagi,
Pak!” jawab anak-anak serentak. Kemudian Pak Edo mulai menyampaikan materi Bab
2. Pak Edo memberi
materi
dengan semangatnya. Beliau menulis sambil menceloteh tanpa ada putus kata. Hanya
dalam waktu 3 menit, 2 papan tulis pun penuh. Beni, murid yang duduk di baris kedua
itu sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Pak Edo sampaikan. Dia hanya bisa melongo
melihat rumus-rumusan angka-angka yang membosankan. Pekerjaan siswa hanya menghapus
papan tulis dan mengisi tinta, menghapus lagi dan mengisi lagi. Tanpa ada satupun
ilmu yang menyangkut di pikiran siswa, materi selesai 2 bab.
“Murid-muridku,
terima kasih atas perhatiannya. Kalian harus memahami materi tersebut. Selamat bertemu
seminggu lagi.” Kata Pak Edo yang kemudian berjalan keluar kelas. Anak-anak masih
terdiam melihat kepergian Pak Edo. Belum mencatat sepatah katapun, guru mata pelajaran
kedua memasuki ruang kelas. Ibu Dina, guru mata pelajaran Ilmu Politik hanya menyuruh
siswa membaca lembaran materi yang membosankan sehingga Beni mengantuk dan tertidur.
Memasuki pelajaran ketiga, mata pelajaran Geografi, Bu
Coola membagi selembar kertas jawaban dan soalnya. Beni
masih tertidur pulas. Ulangan telah dimulai. Tidak ada satu orang pun yang
membangunkan Beni. Mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri. Bahkan tidak ada
yang tahu kalau Beni tertidur sejak mata pelajaran kedua tadi.
“TEEETTT..!!!!
TEEETTT…!!!! TEETTTTTT…!!!!!” Beni terbangun. Ia masih celingukan memandang teman-temannya
sibuk menulis sesuatu.
“Selesai
tidak selesai lembar jawaban harus dikumpulkan. SEKARANG!” Bentakan keras dari suara
menggelegar Bu Coola membuat Beni sangat kaget. Beni melihat ada selembar kertas
jawaban yang masih bersih tanpa ada sedikitpun coretan. Badannya kaku dan hanya
bisa melongo. Ketika Bu Coola memungut kertas itu, Bu Coola terkejut dan matanya
langsung melotot.
“Beni!
Kenapa kamu tidak mengerjakan soalmu?!” Tanya Bu Coola yang nada suaranya sedikit
menaik.
“Emm…
maaf Bu, saya tertidur….,” jawab Beni sambil menundukkan kepalanya. Sekejab Bu
Coola melotot. Jantung Beni semakin kencang berdegup.
“Ya,
sudah.”
“Hah?” mulut
Beni
menganga. Ternyata bu Coola
masih bisa memahaminya.
“Saya
beri waktu kamu 5 menit. Dari
sekarang,” kata Bu Coola membuat Beni senang. Dengan secepat kilat Beni mengerjakan ulangannya. Dalam
waktu 3 menit Beni bisa menyelesaikan ulangan itu
meskipun dia hanya mengira-ngira jawabannya tanpa serius memahami soal. Prinsip
Beni berubah. Prinsipnya sekarang YANG PENTING SELESAI. Meskipun ada guru yang
materinya tak bisa dipahami, guru yang membuatnya mengantuk badai, ataupun guru
yang terlihat garang tapi Beni tak peduli. Yang penting tugasnya selesai.
!!!SELESAI!!!