Minggu, 13 September 2015

CERPEN




TETESAN TERAKHIR
 

Oleh : Puput indah Dwijayanti
T

etesan air hujan belum lelah menumpahkan dirinya ke dasar tanah. Langit tampak sedikit gelap, tanpa cahaya. Mendung tak memberi kesempatan kepada mentari untuk bersinar sejak siang hari tadi. Setelah puas memandang rinai air hujan dari jendela kamar, aku berjalan ke kamar mandi untuk membasuh beberapa anggota tubuhku dengan air wudhu. Kesejukan air terasa meresap melalui pori-pori kulitku. Keluar dari kamar mandi aku mengenakan mukena berwarna biru muda yang bisa menjadikan hatiku sedikit tenang dan tentram di kala hatiku sedang tak bisa memikul  beban dan kesedihan yang selalu bergejolak dirasakan.
          Usai salat Maghrib, aku berdo’a kepada Allah agar aku diberikan ketentraman hati. Beberapa bulir air bening mengalir dengan lembut. Kini air mata telah membasahi pipiku. Aku ingat, selama ini aku berusaha menjadi seorang gadis yang baik hati. Namun aku masih merasa diriku belum menjadi orang yang baik. Aku ingin semua orang di sekitarku menyayangiku. Ya Rabb… maafkanlah hamba-Mu ini…
***
          Dua pesan baru terpampang di layar ponselku. Sms dari Naufal, pacar pertamaku yang sangat baik. Selama ini dia menemaniku, mengiringi langkah kakiku dengan ikhlas. Membuat aku menjadi seseorang yang mempunyai semangat kembali. Ku buka pesan singkatnya.
“Assalamu’alaikum Nis, kamu lagi apa?” Lalu ku balas pesannya. Saat itu aku sedang menikmati kopi Cappuccino. Meskipun pahit tapi aku suka.
“Buatin secangkir untukku ya… udah dulu, aku mau ke masjid, mumpung ada zikiran. Salam SAYANG…” Aku senyum-senyum sendiri membaca sms terakhirnya itu. Sepertinya aku sngat mencintainya. Aku hanya tak ingin masa-masa ini habis dalam sekejab. Melihatnya yang masih menyayangiku membuat aku tak tega untuk mengkhianatinya. Aku akan membuatnya tersenyum. Naufal, aku harap kamu bisa merasakan kesetiaanku saat ini.
***
          Hujan deras kembali menghantam bumi . Aku berdiri di depan pintu masuk kelas. Alhamdulillah, rizqi-Nya datang bersama tetes air hujan yang dingin serta menyejukkan. Namun hujan sore ini membuatku kebingungan, bagaimana aku bisa pulang? Mendapat pelajaran tambahan hingga sore hari memang sangat melelahkan. Aku tak boleh mengeluh, semua yang aku lalui sampai saat ini dan yang aku lakukan sepenuh hati tak boleh berakhir dengan sia-sia.
          “Nisya,” seseorang menyapaku dari belakang. Lalu dia berjalan mendekat, “Hujannya deras sekali ya?” katanya yang kemudian memandang ke atas. Langit masih terlihat gelap.
          “Naufal…,” kataku meyakinkan bahwa dia adalah Naufal. Kedatangannya membuat hatiku terasa sedikit nyeri. Entah kenapa hatiku terasa sedikit sakit. Ya Tuhan, firasat apakah ini?
          “Nis,” katanya memecah keheningan, “aku mau bilang sesuatu,” katanya sambil beralih pandangan memandang beberapa kerumunan anak yang sedang berjalan dengan perlindungan payung. Bahkan ada juga yang rela berbasah-basahan menerobos derasnya hujan.
“Apa?” tanyaku dengan sedikit ragu.
“Apa kamu masih cinta sama aku?” tanyanya kemudian, membuat jantungku langsung berdegup.
“Tentu Naufal. Kenapa memang?” tanyaku padanya. Dia menggelengkan kepala.
“Enggak. Cuma… aku mau tau perasaanmu yang sebenarnya. Tapi, aku sadar. Kamu sangat mencintai aku. Dan aku percaya kamu setia.” Dia memainkan dasinya dan tersenyum. Tapi senyum itu terlihat pahit. “Maaf, Nisya. Selama ini aku enggak bermaksud nyakitin dan bohongin kamu,” apa... maksudnya?? Aku belum bisa berkata lagi. Aku belum mengerti maksudnya, dan aku hanya memandangnya dengan tanda tanya.
“Aku selalu berusaha mencintaimu, Nis. Tapi aku tak pernah bisa. Maaf…,” kata-katanya melemah.
“Naufal… lalu apa arti semua ini? Kamu serius dengan kata-katamu barusan?” aku mulai merasa hatiku kaku. Tapi aku masih sedikit kaget.
“Aku serius, Nisya,” katanya seperti wajahnya yang meyakinkanku.
“Lalu kenapa kamu bilang kalau kamu cinta aku dulu?”
“Entah. Semua terjadi begitu saja,” aku hanya bisa memandangnya seakan tak percaya apa yang barusan ia katakan. Derasnya hujan belum bisa memecah keheningan sore ini. Aku masih terdiam. Perlahan air mataku menetes keluar. Hatiku terasa sakit. Aku baru sadar, cinta yang dia beri selama ini palsu. Mungkin selama ini aku memilikinya. Namun walaupun begitu, hatinya dan hatiku tak pernah bersatu karena hatinya memang tak pernah untukku. Ya Allah, sakit sekali hati ini…
“Aku duluan, Nisya,” katanya yang disusul oleh anggukan lemahku. Selang beberapa menit, ada sepeda motor menghampiri. Kak Irfan, kakak laki-lakiku menjemputku.
“Nisya! Ayo pulang. Sudah hampir reda nih…,” mungkin dia tau kalau hari ini aku pulang sore.
Di perjalanan aku masih terdiam. Angin sore bekas tetesan hujan membawa hawa dingin yang merasuki tubuhku. Naufal, benarkah selama ini kamu tak pernah mencintaiku? Ahh… sakit sekali jika aku mengingat dirimu. Aku hanya ingin melupakanmu beberapa hari. Setelah sakit ini sembuh, akan segera aku selesaikan masalah yang mengganjal ini.
***
Ya Allah… Maafkan hamba-Mu ini… selama ini aku telah terhanyut pada dunia cinta, sehingga aku menjadi lupa akan kewajibanku beribadah kepadamu. Jika memang aku bersalah, ampunilah aku Ya Rabb…
Ku sudahi do’aku bersama air yang menggenang di pelupuk mataku, mengalir dengan lembut. Ponselku bordering. Sms dari Miara, “Nis,aku Lihat Naufal sedang bersama seseorang di warung bakso sekarang. Siapa dia?” aku ingin membalas smsnya. Tapi belum sempat aku membalas, ada sms masuk lagi. Sms dari Miara. “Dia sama Lista, Nis!”  aku mencoba untuk tenang dan membalas smsnya, mencoba untuk bertanya apakah yang dia lihat itu benar.
“Benar, Nisya. Mereka tepat di depan mataku sekarang…! Percaya deh!” seperti inikah kamu di belakangku, Naufal? Bahkan kamu menghiraukan orang yang selama ini selalu setia bersamamu. Belum hilang lukaku karena mendengar perkataan langsungmu yang tak pernah mencintaiku, kini tanpa aku tau kamu masih bersama Lista, seseorang yang dulu pernah ada di hatimu. Aku tak percaya, seorang Naufal yang sangat baik ternyata tega menghianati cintanya. Ya Tuhan… kenapa dia seperti ini? Naufal, sadarlah… kamu sangat sangat sangat menyakitiku…
***
Pagi ini terasa sejuk. Aku berjalan melewati koridor. Akhirnya aku sampai di kelasku. Ketika aku ingin masuk ke kelas, tepat di depan pintu aku melihat Naufal bersama Lista. Aku langsung membalikkan badan. Aku mendengar Naufal bicara tadi. Tapi apa yang dia katakan? ‘Lista, aku masih mencintaimu’. Ya, itu yang aku dengar. Sekujur tubuhku lemas. Seseorang berdiri tepat di depanku dan menopang tubuhku yang hampir tergeletak di lantai. Aku masih tak bisa berkata apapun. Serasa ada sesuatu yang menghantam dadaku. Sakittt sekali. Pernafasanku menjadi tak karuan. Rasanya seperti sesak. Ku pegang dadaku yang serasa ingin meledak. Naufal, tak adakah sedikitpun rasa ia di hatimu? Batinku. Ku kira dia menyayangiku. Tapi ternyata dia tega membohongiku. Dia mengkhianatiku.
 “Nisya, kamu enggak kenapa-kenapa kan?” kata Miara yang tadi menopang tubuhku. Sekarang aku sudah berada di kantin.
“Perih, Miara…,” aku menangis di pelukannya, “salahkah jika aku mencintainya?” suaraku bergetar. Sulit untuk mengatakan apa yang ingin aku katakan.
“Enggak, Nisya,” dia mengelus pundakku.
“Kalau begitu mengapa dia menyakiti orang yang mencintainya? Bukankah kita harus menyayangi semua orang yang menyayangi kita?”
“Allah itu Maha Adil, Nisya. Cepat atau lambat, Naufal akan menyadari bahwa yang selama ini dia lakukan sangatlah menyakitimu. Percayalah, ini yang terbaik untukmu.”
“Naufal sudah berjanji bahwa dia tak akan mengkhianatiku. Tapi kalau memang sudah seperti ini keadaanya apa aku akhiri aja ya Ra?” Miara mengangguk mantap. Matanya yang berbinar yakin mengajakku untuk tetap kuat. Bahkan tanpa Naufal aku harus tetap semangat.
***
Sekarang aku bukan lagi seorang gadis yang selalu merindukan kekasihnya. Meskipun beberapa hari setelah perpisahanku dengan Naufal masih membuat aku rindu dan sedih, tapi aku yakin, inilah yang terbaik. Ya Allah, terima kasih telah menyadarkanku kembali…
Naufal ternyata masih bisa menangis. Dia menangis sambil membaca selembar kertas.  Aku melihatnya dari kejauhan. Walaupun jauh, aku melihat bulir-bulir matanya mengalir.
Assalamu’alaikum Naufal…
Naufal, maaf aku pernah mencintaimu. Aku harap ini adalah tangisan sedih terakhirku untukmu. Setelah kamu membaca surat ini, kamu aka tau bahwa aku tak ingin lagi menangis untukmu.
Aku sendiri tak percaya, ternyata aku lebih kuat dari yang aku bayangkan. Meskipun sekarang aku sedang menangis, namun bibirku tak ingin berhenti tersenyum. Maaf jika aku pernah menjadi beban untukmu. Nisya yang sangat mencintaimu sudah tidak ada lagi. Aku minta kamu jadilah orang yang baik. Jangan sakiti seseorang ynag mencintaimu lagi. Terima kasih untuk semua yang pernah kamu beri untukku.
Wassalamu’alaikum,
Nisya


THE END