Oleh : Puput indah Dwijayanti
T
|
etesan
air hujan belum lelah menumpahkan dirinya ke dasar tanah. Langit tampak sedikit
gelap, tanpa cahaya. Mendung tak memberi kesempatan kepada mentari untuk bersinar
sejak siang hari tadi. Setelah puas memandang rinai air hujan dari jendela
kamar, aku berjalan ke kamar mandi untuk membasuh beberapa anggota tubuhku
dengan air wudhu. Kesejukan air terasa meresap melalui pori-pori kulitku.
Keluar dari kamar mandi aku mengenakan mukena berwarna biru muda yang bisa
menjadikan hatiku sedikit tenang dan tentram di kala hatiku sedang tak bisa
memikul beban dan kesedihan yang selalu
bergejolak dirasakan.
Usai salat Maghrib, aku berdo’a kepada
Allah agar aku diberikan ketentraman hati. Beberapa bulir air bening mengalir
dengan lembut. Kini air mata telah membasahi pipiku. Aku ingat, selama ini aku
berusaha menjadi seorang gadis yang baik hati. Namun aku masih merasa diriku
belum menjadi orang yang baik. Aku ingin semua orang di sekitarku menyayangiku.
Ya Rabb… maafkanlah hamba-Mu ini…
***
Dua pesan baru terpampang di layar
ponselku. Sms dari Naufal, pacar pertamaku yang sangat baik. Selama ini dia
menemaniku, mengiringi langkah kakiku dengan ikhlas. Membuat aku menjadi
seseorang yang mempunyai semangat kembali. Ku buka pesan singkatnya.
“Assalamu’alaikum
Nis, kamu lagi apa?” Lalu ku balas pesannya. Saat itu aku sedang menikmati kopi
Cappuccino. Meskipun pahit tapi aku suka.
“Buatin
secangkir untukku ya… udah dulu, aku mau ke masjid, mumpung ada zikiran. Salam
SAYANG…” Aku senyum-senyum sendiri membaca sms terakhirnya itu. Sepertinya aku
sngat mencintainya. Aku hanya tak ingin masa-masa ini habis dalam sekejab. Melihatnya
yang masih menyayangiku membuat aku tak tega untuk mengkhianatinya. Aku akan
membuatnya tersenyum. Naufal, aku harap kamu bisa merasakan kesetiaanku saat
ini.
***
Hujan deras kembali menghantam bumi . Aku berdiri di depan pintu masuk kelas.
Alhamdulillah, rizqi-Nya datang bersama tetes air hujan yang dingin serta
menyejukkan. Namun hujan sore ini membuatku kebingungan, bagaimana aku bisa
pulang? Mendapat pelajaran tambahan hingga sore hari memang sangat melelahkan.
Aku tak boleh mengeluh, semua yang aku lalui sampai saat ini dan yang aku
lakukan sepenuh hati tak boleh berakhir dengan sia-sia.
“Nisya,” seseorang menyapaku dari
belakang. Lalu dia berjalan mendekat, “Hujannya deras sekali ya?” katanya yang
kemudian memandang ke atas. Langit masih terlihat gelap.
“Naufal…,” kataku meyakinkan bahwa dia
adalah Naufal. Kedatangannya membuat hatiku terasa sedikit nyeri. Entah kenapa
hatiku terasa sedikit sakit. Ya Tuhan, firasat apakah ini?
“Nis,” katanya memecah keheningan,
“aku mau bilang sesuatu,” katanya sambil beralih pandangan memandang beberapa
kerumunan anak yang sedang berjalan dengan perlindungan payung. Bahkan ada juga
yang rela berbasah-basahan menerobos derasnya hujan.
“Apa?”
tanyaku dengan sedikit ragu.
“Apa kamu
masih cinta sama aku?” tanyanya kemudian, membuat jantungku langsung berdegup.
“Tentu
Naufal. Kenapa memang?” tanyaku padanya. Dia menggelengkan kepala.
“Enggak.
Cuma… aku mau tau perasaanmu yang sebenarnya. Tapi, aku sadar. Kamu sangat
mencintai aku. Dan aku percaya kamu setia.” Dia memainkan dasinya dan
tersenyum. Tapi senyum itu terlihat pahit. “Maaf, Nisya. Selama ini aku enggak
bermaksud nyakitin dan bohongin kamu,” apa... maksudnya?? Aku belum bisa
berkata lagi. Aku belum mengerti maksudnya, dan aku hanya memandangnya dengan
tanda tanya.
“Aku selalu
berusaha mencintaimu, Nis. Tapi aku tak pernah bisa. Maaf…,” kata-katanya
melemah.
“Naufal…
lalu apa arti semua ini? Kamu serius dengan kata-katamu barusan?” aku mulai
merasa hatiku kaku. Tapi aku masih sedikit kaget.
“Aku
serius, Nisya,” katanya seperti wajahnya yang meyakinkanku.
“Lalu
kenapa kamu bilang kalau kamu cinta aku dulu?”
“Entah.
Semua terjadi begitu saja,” aku hanya bisa memandangnya seakan tak percaya apa
yang barusan ia katakan. Derasnya hujan belum bisa memecah keheningan sore ini.
Aku masih terdiam. Perlahan air mataku menetes keluar. Hatiku terasa sakit. Aku
baru sadar, cinta yang dia beri selama ini palsu. Mungkin selama ini aku
memilikinya. Namun walaupun begitu, hatinya dan hatiku tak pernah bersatu
karena hatinya memang tak pernah untukku. Ya Allah, sakit sekali hati ini…
“Aku
duluan, Nisya,” katanya yang disusul oleh anggukan lemahku. Selang beberapa
menit, ada sepeda motor menghampiri. Kak Irfan, kakak laki-lakiku menjemputku.
“Nisya!
Ayo pulang. Sudah hampir reda nih…,” mungkin dia tau kalau hari ini aku pulang
sore.
Di
perjalanan aku masih terdiam. Angin sore bekas tetesan hujan membawa hawa
dingin yang merasuki tubuhku. Naufal, benarkah selama ini kamu tak pernah
mencintaiku? Ahh… sakit sekali jika aku mengingat dirimu. Aku hanya ingin
melupakanmu beberapa hari. Setelah sakit ini sembuh, akan segera aku selesaikan
masalah yang mengganjal ini.
***
Ya Allah…
Maafkan hamba-Mu ini… selama ini aku telah terhanyut pada dunia cinta, sehingga
aku menjadi lupa akan kewajibanku beribadah kepadamu. Jika memang aku bersalah,
ampunilah aku Ya Rabb…
Ku sudahi
do’aku bersama air yang menggenang di pelupuk mataku, mengalir dengan lembut.
Ponselku bordering. Sms dari Miara, “Nis,aku Lihat Naufal sedang bersama
seseorang di warung bakso sekarang. Siapa dia?” aku ingin membalas smsnya. Tapi
belum sempat aku membalas, ada sms masuk lagi. Sms dari Miara. “Dia sama Lista,
Nis!” aku mencoba untuk tenang dan
membalas smsnya, mencoba untuk bertanya apakah yang dia lihat itu benar.
“Benar,
Nisya. Mereka tepat di depan mataku sekarang…! Percaya deh!” seperti inikah
kamu di belakangku, Naufal? Bahkan kamu menghiraukan orang yang selama ini
selalu setia bersamamu. Belum hilang lukaku karena mendengar perkataan
langsungmu yang tak pernah mencintaiku, kini tanpa aku tau kamu masih bersama
Lista, seseorang yang dulu pernah ada di hatimu. Aku tak percaya, seorang Naufal
yang sangat baik ternyata tega menghianati cintanya. Ya Tuhan… kenapa dia
seperti ini? Naufal, sadarlah… kamu sangat sangat sangat menyakitiku…
***
Pagi ini
terasa sejuk. Aku berjalan melewati koridor. Akhirnya aku sampai di kelasku.
Ketika aku ingin masuk ke kelas, tepat di depan pintu aku melihat Naufal
bersama Lista. Aku langsung membalikkan badan. Aku mendengar Naufal bicara
tadi. Tapi apa yang dia katakan? ‘Lista, aku masih mencintaimu’. Ya, itu yang
aku dengar. Sekujur tubuhku lemas. Seseorang berdiri tepat di depanku dan
menopang tubuhku yang hampir tergeletak di lantai. Aku masih tak bisa berkata
apapun. Serasa ada sesuatu yang menghantam dadaku. Sakittt sekali. Pernafasanku
menjadi tak karuan. Rasanya seperti sesak. Ku pegang dadaku yang serasa ingin
meledak. Naufal, tak adakah sedikitpun rasa ia di hatimu? Batinku. Ku kira dia
menyayangiku. Tapi ternyata dia tega membohongiku. Dia mengkhianatiku.
“Nisya, kamu enggak kenapa-kenapa kan?” kata
Miara yang tadi menopang tubuhku. Sekarang aku sudah berada di kantin.
“Perih,
Miara…,” aku menangis di pelukannya, “salahkah jika aku mencintainya?” suaraku
bergetar. Sulit untuk mengatakan apa yang ingin aku katakan.
“Enggak,
Nisya,” dia mengelus pundakku.
“Kalau
begitu mengapa dia menyakiti orang yang mencintainya? Bukankah kita harus
menyayangi semua orang yang menyayangi kita?”
“Allah
itu Maha Adil, Nisya. Cepat atau lambat, Naufal akan menyadari bahwa yang
selama ini dia lakukan sangatlah menyakitimu. Percayalah, ini yang terbaik
untukmu.”
“Naufal
sudah berjanji bahwa dia tak akan mengkhianatiku. Tapi kalau memang sudah
seperti ini keadaanya apa aku akhiri aja ya Ra?” Miara mengangguk mantap.
Matanya yang berbinar yakin mengajakku untuk tetap kuat. Bahkan tanpa Naufal
aku harus tetap semangat.
***
Sekarang
aku bukan lagi seorang gadis yang selalu merindukan kekasihnya. Meskipun
beberapa hari setelah perpisahanku dengan Naufal masih membuat aku rindu dan
sedih, tapi aku yakin, inilah yang terbaik. Ya Allah, terima kasih telah
menyadarkanku kembali…
Naufal
ternyata masih bisa menangis. Dia menangis sambil membaca selembar kertas. Aku melihatnya dari kejauhan. Walaupun jauh,
aku melihat bulir-bulir matanya mengalir.
Assalamu’alaikum
Naufal…
Naufal,
maaf aku pernah mencintaimu. Aku harap ini adalah tangisan sedih terakhirku
untukmu. Setelah kamu membaca surat ini, kamu aka tau bahwa aku tak ingin lagi
menangis untukmu.
Aku
sendiri tak percaya, ternyata aku lebih kuat dari yang aku bayangkan. Meskipun
sekarang aku sedang menangis, namun bibirku tak ingin berhenti tersenyum. Maaf
jika aku pernah menjadi beban untukmu. Nisya yang sangat mencintaimu sudah
tidak ada lagi. Aku minta kamu jadilah orang yang baik. Jangan sakiti seseorang
ynag mencintaimu lagi. Terima kasih untuk semua yang pernah kamu beri untukku.
Wassalamu’alaikum,
Nisya
THE END